SURAT PERJANJIAN
Waktu itu hujan rintik-rintik. Kobus berteduh di teras rumahnya, sembari menikmati secangkir kopi pahit Colol. Setiap hari Kobus jalani hari bersama dengan kedua sahabatnya yaitu Tinus dan Tina. Mereka bertiga adalah sahabat sejak kecil.
Suatu hari saat berteduh di bawah pohon Cemara, entah ada angin apa Tinus yang lugu tiba-tiba memiliki suatu ide yang bagus dan cukup realistis. Dia mengusulkan agar mereka bertiga menulis surat perjanjian persahabatan dan kemudian di sobeklah kertas buku punya Kobus oleh Tinus, setelah selesai menulis surat perjanjian tersebut kertas di masukan ke sebuah botol kaca yang bertuliskan sopi kobok, kemudian botol kobok tersebut dikubur dibawah pohon Cemara yang nantinya surat tersebut akan mereka buka saat mereka menerima hasil ujian kelulusan.
Hari yang mereka bertiga tunggu-tunggu akhirnya tiba, Kobus, Tinus dan Tina menerima hasil ujian. Syukurlah karena berkat ketekunan dan kerja keras mereka bertiga lulus semua. Kobus, Tinus dan Tina serentak berlari kemudian langsung pergi ke pohon yang pernah mereka datangi dan menggali tepat di mana botol yang dahulu dikubur berada.
Kemudian, Kobus membuka botol kobok tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah mereka tulis. Dikertas tersebut bertuliskan “Ami janji kut kae’ng cama-cama nang tedeng len” (Kami berjanji akan selalu bersama-sama untuk selamanya).
Keesokan harinya, Tina berencana untuk merayakan kelulusan mereka bertiga. Sorenya mereka bertiga pergi bersama ke suatu tempat dan di situlah ada kejadian yang tidak bisa Kobus lupakan, Kobus kaget karena Tinus berencana untuk menyatakan perasannya kepada Tina. Ahirnya Tinus dan Anus berpacaran sedangkan Kobus bercumbu dengan rindu yang tak kunjung sembuh. Malam itu sungguh malam buruk untuk Kobus yang seorang diri dan malam yang istimewa untuk Tinus dan Tina. Setelah sekian lama berbaur dengan alam akhirnya mereka pun bergegas untuk pulang.
Ketika perjalanan pulang, entah mengapa perasaan Kobus tidak enak.
“Perasaanku tidak enak banget ya?” Ucap Kobus penuh takut.
“Sudahlah Kobus, santai aja, kita tidak bakalan kenapa-kenapa” Jawab Tinus dengan santai.
Tidak lama setelah itu, hal yang dikhawatirkan Kobus terjadi begitu cepat.
“Tinus awasss, Di depan ada jurang” Teriak Kobus.
“Aaaaaa!!!!”
Brukk. Oto yang mereka kendarai masuk ke dalam jurang. Kobus tak kuasa menahan rasa sakit melihat darah yang terus mengalir sampai Kobus tidak sadarkan diri.
Perlahan Kobus buka matanya sedikit demi sedikit dan Kobus melihat Ayah dan Ibuku berada di sampingnya.
“Kobus. kamu sudah sadar?” Tanya Ayahku.
“Ayah. aku di mana? Di mana Tinus, dan Tina?” tanyaku.
“Kamu di rumah sakit Nak, kamu yang kuat, Tinus dan Tina tidak tertolong di lokasi kecelakaan” Jawab Ayah sambil menitikkan air mata.
Kobus terdiam membisu mendengar ucapan Ayah dan air matanya menetes, tangisannya tiada henti mendengar pernyataan Ayahnya.
“Tinus, Tina mengapa kalian tinggalkan aku sendiri, aku akan kesepian. Padahal kita sudah berjanji untuk bersama selamanya, tegah sekali kalian, aku sayang kalian, tapi kalian meninggalkan aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku.” Teriak Kobus sambil mengusap air matanya.
Dan, lima hari pun berlalu. Kobus pun berkunjung ke makam mereka, Kobus berharap mereka bisa menghabiskan waktu bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Kobus berjanji akan selalu mengenang kalian.

Komentar